Thursday, December 26, 2013

Story birth of My Little Angel " Maritza Azkadina Ilhami"

Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah banyak sekali melimpahkan Nikmat, Rahmat serta kasih sayangNya. Shalawat serta salam kuhaturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya. Rasa syukur kami (saya dan suami) mungkin tak sebanding dengan limpahan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada saya dan suami. Nikmat berkumpul bersama dengan suami (karena sebelumnya sempat merasakan LDR setelah menikah), diberikan kehamilan yang segera, diberikan proses kelahiran yang cepat dan tanpa mules, diberikan seorang bayi cantik yang luar biasa buat kami, serta nikmat-nikmat lainnya yang tak akan pernah terhitung secara matematika.

Sedikit ingin share tentang kehamilan serta proses persalinan pertama saya. Beberapa tahun yang lalu saya sangat takut sekali dengan proses persalinan normal karena sepertinya amat sangat menyakitkan sekali, harus mengejan sekuat tenaga, merasakan mules yang luar biasa serta prosedur perobekan parineum atau episiotomi, belum lagi proses induksi yang menyiksa dan menyisakan trauma para wanita yang melahirkan dengan proses induksi. Namun ketakutan itu berganti dengan rasa excited setelah saya tahu tentang Gentle Birth, apa itu Gentle Birth? Gentle birth memang bukan sebuah metode namun lebih kepada sebuah filosofi melahirkan yang ramah dan minim trauma, melalui pemberdayaan diri (mohon koreksi kalau saya salah). jauh sebelum saya menikah saya tahu mengenai GB ini karena ada contoh nyata yaitu teman saya sendiri yang begitu menikmati proses persalinannya, mendengar ceritanya saya jadi excited untuk lebih mencari tahu tentang GB dan salah satu keuntungannya adalah anak yang dilahirkan secara GB itu tidak mudah rewel (contoh nyata adalah baby Aleisha Azzahra Aribowo putri seorang teman saya). tapi bukan berarti baby itu tidak menangis ya, tetap menangis karena itu adalah proses komunikasi baby dengan ibunya, namun intensitas menangisnya tidak sering atau orang menyebutnya dengan istilah "rewel". Dan saat proses persalinan pun si ibu tidak teriak-teriak, si ibu yang melahirkan secara GB akan lebih tenang dan menikmati tiap prosesnya, tiap kontraksi itu dijadikannya sebuah alert ibu bahwa baby yang dinanti-nanti akan segera bertemu dengannya, GB tidak memerlukan induksi yang selama ini digunakan untuk merangsang baby agar keluar, proses GB lebih kepada menunggu waktu kapan baby itu mau keluar secara alami.

Setelah menikah dan tahu bahwa saya hamil saat itu pula saya lebih intens lagi mengenai GB, ternyata GB tidak serta merta bisa didapat begitu saja, ada prosesnya sebelum melahirkan, persiapan mental, fisik dan ilmu itulah yang menjadi point penting untuk GB atau disebut sebagai pemberdayaan diri, dan tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari suami dan keluarga (beruntung saya mempunyai suami yang begitu support akan proses GB, IMD dan ASIX dan suamilah yang banyak cari tahu tentang GB dan mengumpulkan file-file tentang GB, saya tinggal baca dan lihat video nya saja yang telah di download suami hehehe). Ternyata proses kehamilan dan persalinan menjadi awal yang penting bagi perkembangan anak kelak. Ketika hamil saya selalu mengajak bicara debay walaupun baru berusia beberapa minggu karena saya yakin dengan lebih seringnya debay dalam kandungan diajak bicara maka debay pun akan mudah untukk diajak kerjasama karena debay merasa bahwa dirinya itu sangat diharapkan kehadirannya oleh kedua orang tuanya dan itu merupakan awal dari pola pengasuhan. Saat hamil muda saya merasakan apa yang dirasakan para ibu hamil muda pada umumnya, mual, muntah, lemas tapi memang tidak sering(seringnya malah lemes-lemes ngantuk terus, tapi kayaknya itu mah udah jadi trademark saya pelor hahahha :p), tiap rasa mual dan ingin muntah saya selalu ajak bicara si debay agar tidak sembarangan muntah dan mual (diatur tempat dan kondisinya dan selalu berhasil) tiap saya ingin melakukan berbagai aktifitas saya selalu melibatkan debay agar dapat bekerjasama. Walaupun suami saya tinggal berjauhan dengan saya, namun setiap malam suami saya juga selalu mengajak bicara dan mendokan debay kami via handphone, begitupun saat kami bersama, suami saya selalu mengajak bicara debay kami hingga proses persalinan Terbukti sekarang Azka (putri kami) sangat mengenali suara abinya, dan sangat nurut dengan kata-kata abinya.

Proses kehamilan saya lalui  di dua tempat, trimester pertama di Jakarta, trimester kedua dan ketiga serta melahirkan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Saya sempat mendapatkan pembekalan dari Bidan Yuli ( bidan GB di wilayah bekasi) untuk saya lakukan ketika di Kalimantan. Dari awal saya berencana melahirkan dirumah (homebirth) kalau normal tapi kalau harus SC ya di Rumah sakit atau klinik bersalin. Karena niat dan tekad saya ingin homebirth maka saya melakukan berbagai persiapan-persiapan ilmu/membaca (the baby book by dr. sears, bidankita.com), fisik (prenatal yoga, pelvic rocking) dan mental (hypnobirthing) mungkin kedengarannya sangat aneh, hari gini homebirth? karena saya berpikir homebirth lebih privacy, akan lebih tenang nyaman, dan kita bisa mengatur sendiri posisi melahirkannya. GB sendiri tidak bisa berdiri sendiri, walaupun kita sudah siap ilmu, fisik dan mental, proses GB pun butuh Nakes untuk membantu proses persalinan, tapi jangan harap semua nakes (dokter dan bidan) paham akan GB tapi kita komunikasikan saja ingin melahirkan secara nyaman, dan minta dokter atau bidan untuk tidak melakukan induksi, itu aja dulu pointnya. karena ingin normal dan homebirth maka saya tidak pernah absen dalam memeriksa kandungan saya, memastikan semuanya normal dan baik-baik saja agar proses homebirth bisa berjalan, walaupun tidak berjalan karena mungkin posisi debay tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Pada bulan ke 6 dan ke 8 posisi debay saya sungsang, pertama kali dibulan ke 6 mengetahui posisi sungsang maka yang dilakukan adalah banyak-banyak sujud dan tidak lupa selalu pelvic rocking di birthing ball, dan posisi pun normal tetapi di bulan ke 8 posisi debay kembali sungsang, agak panik juga karena sudah mendekati bulan ke 9 kok sungsang, artinya saya harus berusaha keras agar debay kembali ke posisi seharusnya. ketika sholat dan selepas sholat banyak sujud, berdoa sambil saya affirmasi debay agar kepalanya turun keposisi normal, melakukan knee chest position sebelum tidur dan bangun tidur serta dilakukan saat waktu senggang tiap hari, dan alhamdulillah ketika kembali ke DSOG kepala debay turun diposisi normal. Karena ingin homebirth maka saya harus mencari bidan yang bisa diajak kerjasama dengan saya dan merealisasikan apa yang saya rencanakan. Saya baru mulai mencari bidan di usia kehamilan pada bulan ke 9 (padahal harusnya jauh sebelum itu sudah mencari), saya pun mencari tahu dan ngobrol-ngobrol dengan orang yang tahu tentang bidan-bidan di tempat saya tinggal, ok bidan pertama sudah saya pegang no hp nya dan siap berdiskusidengan bidan tersebut, awalnya saya harus periksa dulu di klinik bersalinnya, dan mencoba berbicara kepada bidan juniornya (alhamdulillah bidan junior nya welcome sekali, saya pikir bidan seniornya pasti welcome juga) tapi ternyata taraaaaa.... tidak seindah yang saya pikir itu bidan senior, baru awal pembicaraan nada bicaranya sudah meninggi dan tidak suka sepertinya berdiskusi dengan saya via telepon (padahal nada suara saya merendah) maka saya ingin berdiskusi secara langsung tapi bidan tersebut menolak mentah-mentah dengan alasan sibuk dan menyuruh saya periksa ke anak buahnya saja, dan mulailah bidan tersebut berbicara mengenai prosedural persalinan di kliniknya bla bla bla.. dan saya pun terkejut, dan saat itu saya  delete bidan tersebut dari list saya, bagaimana bisa saya mau melahirkan dengan bidan tersebut tapi saya tidak kenal dan tidak pernah lihat rupanya, dimana kenyamanan saya nantinya saat proses persalinan? lebih baik saya melahirkan dengan DSOG saya yang ramah dan low profile itu deh, akhirnya niat homebirth pun luntur saya putuskan untuk melahirkan dengan DSOG saya saja kalau begitu.

Secara tidak sengaja, dapat info dari orang yang mengurut tangan saya, katanya ada bidan swasta yang baik dan kedengarannya bagus, maka saya dan suamipun langsung meluncur menuju rumah bidan tersebut, dan alhamdulillah setelah berdiskusi panjang lebar bidan tersebut masuk kriteria saya, orangnya ramah, tidak money oriented (periksa 2 kali gak disuruh bayar sepeser pun) dan beliau mau merealisasikan apa rencana saya yaitu homebirth tanpa induksi dan prosedural persalinan yang saya dengar dari bidan pertama tersebut diatas tadi. Saya pun mulai memeriksa kehamilan saya dengan bidan swasta tersebut, saat itu kehamilan memasuki minggu ke 37 tapi ternyata posisi debay masih belum masuk panggul, dan kata bidan maupun DSOG kehamilan pertama debay masuk panggul sejak minggu 37. Bidan tersebut tidak bisa membantu saya untuk persalinan normal kalau belum masuk panggul, harus plan SC sama seperti yang diutarakan oleh DSOG saya, satu-satunya jalan adalah dengan cara SC. saya pun agak surrender juga mengetahui posisi debay belum masuk panggul. Saya mencari tahu tentang panggul kecil dan berdiskusi kembali dengan bidan Yuli  via telepon, beliau memberikan masukan-masukan yang membuat saya kembali bersemangat, saya banyak jalan di area yang turun naik, affirmasi lebih intens, berdoa dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. ternyata hingga minggu ke 39 debay belum masuk panggul juga, saya pun menyerah pasrah kalaupun harus SC maka saya akan jalani, karena memang saya mengalami masalah ditulang panggul saya sejak lama, namun saya tidak aware dari awal mengenai masalah tulang tersebut. Demam pun melanda selama 3 hari setelah dicek darah, leukosit saya tinggi semakin membuat saya terpuruk, tapi suami saya selalu memberikan saya keyakinan bahwa saya bisa melahirkan normal dirumah, DSOG saya pun mau diajak menunggu debay saya masuk panggul hingga minggu ke 42, beruntung DSOG saya sabar dan mau menunggu kalau pun tidak juga masuk panggul hingga minggu 40 maka saya dan suami harus membuat rencana SC dengan DSOG tersebut di tanggal 22 oktober 2013 (HPL 24 - 29 Oktober 2013). Jumat malam tanggal 18 oktober 2013 sekitar pukul 7, saya memabaca status BBM teman kantor saya bahwa istrinya sudah bukaan 2, wah saya senang sekali mendengarnya dan mulai bbm dengan teman saya itu,entah mengapa setelah itu ada energi yang luar biasa membuat saya kembali semangat dan tidak tertekan, demam sayapun mulai turun dan saya mulai kembali pulih walaupun tidak 100 persen. Selepas BBM dengan teman saya tersebut saya ceritakan kepada suami (kebetulan suami juga kenal dengan teman saya itu). Saya pun berceloteh, "bi, kok azka belum masuk panggul juga ya, padahal temannya itu udah bukaan 2", kami pun sama-sama mengajak debay berbicara, azka kapan keluarnya, itu gocil (panggilan debay teman saya itu) udah bukaan 2, udah mau keluar, nah azka kapan, nti umi setrika kok baju azka sebelum azka lahir (saya memang belum merapihkan baju2 debay saya hehehe). Paginya, Sabtu 19 Oktober 2013 saya mendapati flek cokelat, Subhanallah senang sekali saya melihatnya tapi jangan GR dulu deh, saya cepat-cepat memberitahu suami dan sorenya kami menuju rumah bidan swasta untuk mengecek siapa tahu sudah bukaan, dan ternyata belum ada bukaan sama sekali tapi yang membuat kami senang, lega dan bercampur haru debay sudah masuk panggul setengah itu artinya dalam beberapa hari kedepan debay akan lahir danada kesempatan saya untuk melahirkan secara normal. kami pun pulang kerumah dengan perasaan lega dan bersyukur atas nikmat yang Allah beri ini, dan kami semakin percaya kepada azka bahwa anak ini sangat korporatif dengan kami, karena kami selalu berbicara dengannya untuk minta tolong kerjasamanya agar uminya ini dapat melahirkan secara normal alami. Minggu malam tanggal 20 Oktober 2013, flek cokelat berganti merah. Ya Allah.. Alhamdulillah semakin bertambah rasa senang saya melihat flek kemerahan itu, karena artinya tidak berapa lama saya dan suami akan bertemu dengan malaikat kecil kami. Sayapun sms ke bidan malam itu juga bahwa sudah keluar flek merah, dan kata bidan santai aja mba, kalau masih bisa tidur maka tidur aja dulu, istirahat santai. Sayapun santai, tidur istirahat walaupun sepertinya kontraksi sudah mulai dekat-dekat jaraknya. Paginya Senin tanggal 21 Oktober 2013 ketika saya merasakan kontraksi saya ajak jalan-jalan bolak balik kamar tidur, ruangan tamu, dan melakukan pelvic rocking di birthing ball ketika kontraksi berhenti, sekitar jam 10 pagi suami dan kakak ipar menjemput ibu saya dibandara dan saya tinggal dirumah sendiri sambil pelvic rocking, jalan-jalan dan melakukan aktifitas lainnya. Saya sebenarnya bingung ini benar-benar kontraksi atau bukan karena saya tidak merasakan mules, tapi hanya perut meneggang saja dan agak sakit di tulang panggul (tulang panggul sakit sudah biasa saya rasakan walaupun tidak hamil, karena memang bermasalah sejak dulu). sore sekitar jam 4 suami mengompres bagian tulang panggul dan saya juga berendam di air hangat di kolam karet agar tetap rileks  (sengaja saya beli kolam karet sebenernya untuk water birth hehehe). Selesai berendam saya istirahat dan beberapa menit kemudian saya merasakan ada rembesan air yang mengalir tapi bukan air pipis, mungkin ini air ketuban, saya pun memberitahu suami saya air ketuban sudah keluar dan segera menghubungi bidan pukul 17:00, bidan akan kerumah selepas magrib. Pukul 18:30 bidan sampai rumah dan memeriksa, ternyata bidan bilang sudah bukaan lengkap, saya dan suami pun terharu ternyata sudah bukaan lengkap, senang rasanya ini artinya beberapa jam lagi kami akan bertemu azka, kami siapkan apa-apa yang bidan butuhkan dan alhamdulillahnya bidan kerumah kami sudah mempersiapkan semuanya untuk keperluan bersalin di rumah. saya, suami, ibu saya dan bidan menunggu, tapi mulesnya tidak kunjung datang, hanya sesekali itupun tidak sakit saya mengejan 3 kali sudah itu tidak bertambah, rambut bayi sudah terlihat tapi rasa mules tidak bertambah padahal sudah menunggu selama 3 jam, rangsangan induksi alami pun tidak kunjung menambah hick, saya mengantuk sekali tapi bidan bilang jangan tidur mba, harus tetap melek. Bidan dan ibu saya pun bingung karena sudah mengejan saya masih bisa ngobrol seperti biasanya, tidak ada teriak-teriakan. Saya agak putus asa juga karena sudah 3 jam dan air ketuban sudah pecah belum juga ada dorongan dari debay untuk keluar, bidan pun menawarkan mau tetap dirumah menunggu 30 menit lagi (bidan menyiapkan jarum infus) atau ke RS/ klinik saja. Saya pun memilih ke RS saja karena jaraknya lebih dekat dengan rumah, kemudian kami pun menuju RS, sudah give up rasanya saya bisikan ke suami lakukan SC saja karena saya takut nanti di induksi karena debay tidak mendorong keluar. Sampai IGD entah itu dokter atau bidan mendekati saya, saya pikir mau kasih support eh ternyata malah bilang "ibu gak kasian apa sama bayinya", (maksudnya kok berani-beraninya melahirkan dirumah secara alami pula), huh gregetan rasanya. semakin saya gak mau melahirkan normal kalau orangnya seperti itu yang handle. Saya pikir saya akan masuk ruang operasi tapi ternyata saya masuk ruang bersalin, tidak di SC karena kepala bayi sudah nampak. Di Ruang bersalin, alhamdulillah para bidannya tidak seseram yang saya bayangkan, mereka ramah dan mau menunggu. setelah saya masuk ruang bersalin ada pasien yang masuk ruang bersalin berteriak-teriakk kesakitan dan langsung melahirkan, pasien kedua masuk sama mengerang kesakitan dan lahir. Sedangkan saya belum merasakan apa-apa kecuali rasa kantuk yang amat sangat, bidan pun memberikan support ayo bu, itu teman-temannya sudah pada melahirkan, ibu masuk duluan belum lahir. Bidan menyuruh suami saya membelikan air minum, tidak berapa lama suami menuju pintu keluar ruang bersalin, rasanya ada yang bergerak didalam perut saya spontan yang tadinya saya tidur beberapa detik saya bangun dan mengejan, mama saya menangis haru baby telah keluar, bidan pun menunjukan bayi tersebut bahwa baby saya telah lahir, saya sempet bingung juga kok cepet ya kok bayi sudah keluar aja padahal mengejannya cuma sekali. Kasian suami tidak bisa melihat detik-detik azka keluar, ternyata azka mau keluar di RS yang ada lampu terangnya (maklum dirumah sedang mati lampu) dan gak mau dilihat abinya hehehe. bayipun dibersihkan dan langsung diberikan kepada saya untuk IMD (permintaan saya kepada bidan) sambil IMD bidan melakukan hecting atau menjahit saya (kayaknya mah di obras dan ternyata bidan melakukan episiotomi makanya jahitannya banyak, padahal gak di epis juga bisa keluar sendiri baby nya).

Entah proses persalinan ini dikatakan GB atau bukan, karena saya di epis padahal GB itu tidak melakukan epis agar pemulihannya lebih cepat dan fokus mengurus baby diawal kelahiran, saya juga tidak melakukan cord delay clamping ataupun lotus birth karena memang di RS tidak akan mengizinkan itu. Tetapi ini akan menjadi pengalaman berharga saya agar lebih sabar dalam menunggu sinyal-sinyal debay keluar, debay punya waktu sendiri untuk lahir kedunia tanpa intervensi apapun terbukti saya mengejan secara alamiah karena merasakan ada gerakan yang mau keluar. Namun alhamdulillah saat kehamilan saya rasakan kenyamanan, debay saya bisa diajak Shaum Ramadhan full tanpa batal sama sekali, hingga sekarang pun Azka mudah untuk diajak kerjasama oleh kami. Mudah-mudahan sharing ini bisa menjadi pelajaran juga bagi teman-teman semuanya yang sedang hamil, ataupun yang mempersiapkan kehamilan.

Maritza Azkadina Ilhami telah lahir pada 22 Oktober 2013 pukul 23:40 WIB secara normal spontan dengan Berat badan 3,1 Kg dan panjang 49 Cm, semoga menjadi anak yang Sholehah, cerdas, dan tangguh, menjadi penentram jiwa dan penyejuk hati kami. Kami berikan yang terbaik untukmu nak sejak dalam kandungan, pada proses persalinan in Shaa hingga kedepannya  Aamiin...

Monday, August 26, 2013

The Choosen Prince #LifePartner


Morning Diary, 


Tak terasa sudah lama sekali tidak menjumpai blog ini, lebih dari setengah tahun agaknya tidak produktif menulis dan membaca, sedang tak punya waktu untuk menulis lagi, maklum double jobs, Ibu RT plus wanita bekerja *alesaaan... :p*. sebenarnya sudah lama ingin menulis judul seperti diatas ini, tapi baru kesampaian hari ini. Pangeran Pilihan, Yeaah....He is my Husband, laki-laki pilihan yang Allah berikan untuk saya, saya mengenalnya memang sudah lama sekali sejak pertengahan 2005 tepatnya di Bandar Lampung, itu pun perkenalan yang tak disengaja, karena saya dan dia sama-sama punya tujuan mengantar kawan ke daerah Metro Lampung Tengah, yah itung-itung memperbanyak saudara that's it tak ada tujuan yang lain, walau saat itu ada sesuatu yang beda ketika berkenalan dengannya, entah.. saya melihatnya suami saya ini orang baik dan tulus dan ternyata memang begitu adanya, dan sedikit cuek. tapi ya sudahlah.. waktu itu saya gak peduli karena sedang tak berpikiran sampai jauh, karena fokus saya saat itu adalah mempersiapkan diri untuk bisa lulus kuliah tahun depan dengan predikat cum laude dan alhamdulillah tercapai. 

Jodoh itu memang misteri, hanya Allah yang tahu karena Allah telah merancangnya sejak kita dalam kandungan, sejak Allah meniupkan Ruh kita saat usia 4 bulan di dalam rahim Ibu. Walau tahu sejak lama namun untuk pertemuan tatap muka langsung dengan suami saya itu kurang lebih 3 kali saja. tapi ya itulah lagi-lagi jodoh memang misteri, dan akhirnya Allah jadikan ia menjadi Imam saya. Saya selalu berdoa agar jodoh saya adalah benar-benar pilihan Allah bukan dari pilihan saya, karena ketika Allah yang pilih maka sudah pasti itu adalah yang terbaik untuk kita, seperti yang Allah firmankan dalam Al Qur'an Surah Al Baqarah 216 : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".

Dan hal terpenting lagi adalah tetaplah yakin akan takdir Allah dan tetaplah berkhusnuzon kepada Allah SWT dengan apa yang Allah berikan untuk kita. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah SAW, bersabda : Allah Ta'ala berfirman : Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadapa-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku, Apabila dia Mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jamaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, Apabila dia mendekati-Ku sehasta maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Kitab Sahih Muslim No. 4832).

Proses saya dengan suami saya menuju pernikahan pun cepat dan tidak melalui proses pacaran, walaupun suami saya bukan dari kalangan tarbiyah tapi Alhamduillah dia Paham akan proses yang baik untuk menuju yang baik. Pernikahan adalah tujuan yang baik, maka harus dilalui dengan proses yang baik pula, agar pernikahan tersebut penuh barokah dan semoga Allah SWT selalu melimpahkan banyak keberkahan di dalamnya untuk suami, istri dan juga keturunan-keturuananya, dan dapat dipertemukan kembali di Surga Allah. Aamiin Allahumma Aamiin.. Setelah Akad dilaksanakan babak baru dimulai, walau hanya berbekal sedikit dalam perkenalan dengan suami saya, namun saya yakin Allah akan membimbing kami dalam kebaikan-kebaikanNya. 

Subhanallah... setelah menikah barulah kita tahu kebaikan-kebaikan yang ada pada manusia yang menjadi pasangan kita,  Maha Suci Engkau Ya Allah.. apa-apa yang menjadi doa saya sebelum menikah ada dalam diri Suami saya, dan apa-apa yang menjadi Doa saya, Allah Kabulkan. Pasangan saya bukan manusia sempurna karena saya pun bukan manusia sempurna juga, Saya tidak mencari pasangan yang sempurna namun cinta adalah sebuah proses bagaimana kita bisa menerima pasangan kita dengan sempurna. Buat saya Menikah bukan sekedar memadu kasih bukan sekedar di dunia namun jauh kedepan tujuannya adalah agar dapat dikumpulkan di Surga bersama keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah.

Menikah adalah sebuah perjanjian berat yang langsung terhubung kepada Allah, Menikah adalah sebuah proses manusia menjadi manusia dewasa yang bijak dalam menghadapai segala  sesuatunya, menikah adalah perpaduan 2 insan yang harus selalu bersinergi dalam kebaikan-kebaikan dan membentuk sebuah generasi yang taat kepada Allah dan RasulNya, generasi yang tangguh dan cerdas, In Sha Allah Aamiin.. 

Sunday, February 10, 2013

Story of My Wedding (paduan Budaya dan style simple saya)

Hai diary, First the all, i wanna thanks to Allah for all blessings. it's amazing.. sulit untuk didefenisikan. well, Acara Akad nikah dilaksanakan di Bekasi, Akad nikah dengan konsep sederhana pun dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2012, sedangkan resepsi diselenggarakan di Gelumbang, Palembang pada tanggal  6 Januari 2013. Pernikahan yang semoga menjadi sebuah pernikahan yang barokah seperti yang ada dalam doa-doa dari keluarga, kerabat, sahabat dan rekan-rekan semuanya, semoga Allah Ijabah doa-doanya Aamiin..

Alhamdulillah, akhirnya apa yang saya inginkan dalam pernikahan pun terlaksana dengan baik dan lancar,  it has been worked properly. Dari dulu saya punya cita-cita menikah dengan konsep simple, natural, casual dan juga menginginkan culture masuk dalam list acaranya. Akad nikah diselenggarakan di Bekasi dengan konsep simple dan casual, sederhana dan jauh dari kemewahan, that's the point!! ya, inilah saya yang simple dan natural, maka saya masukkan lah dasar pemikiran saya di hari Pernikahan, tapi jangan dikira ini berjalan mulus, pada awalnya banyak komplain juga dengan dasar pemikiran saya yang super duper simple itu, but.. alhamdulillah finally semua menerima pemikiran saya tersebut, dengan memberikan alasan-alasan yang baik secara hati-hati agar konsep saya diterima dengan baik oleh orang tua dan keluarga. Hal pertama yang menjadi point penting perhatian saya adalah make up wajah, kenapa dengan make up wajah, mungkin saya wanita yang paling berlebihan dengan masalah yang satu ini, karena saya bukan wanita pesolek dan sangat alergi dengan perias pengantin, karena dari sekian banyak yang saya jumpai tata rias wajah untuk pengantin biasanya tebal sekali dengan warna-warna mencolok yang ditemplokin diwajah si pengantin wanita, waduh... ingin terlihat cantik kan tidak harus ber-make up tebal toh!? saya suka gaya kate middleton yang me-make up wajahnya ketika dihari Pernikahannya, natural namun tetap terlihat anggun) andai saya bisa make up wajah sendiri mungkin sudah saya lakukan sendiri dihari pernikahan itu, sayangnya saya tidak bisa. Karena permintaan orang tua dan keluarga dan juga teman-teman, maka saya mau di make up tapi saya maunya di make up oleh teman saya (bukan perias yang sebenarnya tapi paling tidak dia bisa merias wajah saya dengan make up natural sesuai dengan keinginan saya hehehe), tapi sayangnya.. ternyata H-7 teman saya itu dapat info kalau suaminya keluar kota, ya sudah.. saya pun tidak jadi menggunakan jasanya, karena kasian kalau pagi-pagi harus ke rumah saya sendirian pula (eh sama anaknya dink yang masih baby, gak tega moso kanjeng nona ale ale naik angkot pagi-pagi masih gelap). Akhirnya terpaksalah saya menggunakan jasa make up yang memang spesial merias orang, tapi ini pun saya lakukan dengan sangat hati-hati dalam memilih periasnya yang sesuai dengan keinginan dan juga style saya, Alhamdulillah akhirnya saya temukan juga perias muda yang inovatif dengan style make up yang natural dan mau ikutin apa yang saya mau heheheh (thanks mba dewi, make up dan kreasi jilbab nya bagusss, simple, naturall tapi terlihat anggun)

And Next, Resepsi Pernikahan diselenggarakan di Gelumbang di kediaman keluarga suami saya, dengan menggunakan konsep pengantin adat Palembang dan saya juga menari saat itu. Awalnya agak kaget juga diminta untuk menari, karena saya sudah lama tidak belajar tari, terakhir saya belajar tari saat saya duduk di bangku SMP (udah lama banget tuh kan, tarian nya juga tarian dari tanah jawa tidak pernah menari tarian dari tanah sumatera kecuali tarian badindin dari sumbar), Tapi karena saya sangat senang dengan Culture Indonesia, jadi saya sangat excited juga menerima konsep menari tersebut, jadi kaget plus excited hehehe.. Saya memang tinggal di Kota tapi hati dan pikiran saya masih sangat mencintai budaya nusantara, karena budaya Nusantara itu sangat unik, dan melukiskan ciri pribadi bangsa Indonesia, dan saya juga mempunyai tugas untuk melestarikan budaya/adat tersebut agar tidak punah dan tidak pula dicuri oleh bangsa lain. Saya ceritakan dulu mengenai busana pengantin adat Palembang, busana pengantin adat palembang ada 2 (dua) jenis, yaitu :
  1. "Aesan Pak Sangkong", busana macam ini digunakan sebagai Busana Pengantin adat di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Busana ini yang dikenakan di pernikahan Alya menantu SBY). Pengantin wanita menggunakan baju kurung warna merah tabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus, teratai penutup dada serta hiasan kepala berupa mahkota Pak Sangkong, Kembang Goyang, Kelapo standan, kembang kenango dan perhisan mewah keemasan. Pengantin Pria berjubah motif tabor bunga emas, seluar (celana) pengantin, songket lepus, selempang songket serta songko emas menghiasikepala. Keindahan detai busana serta kilauan perhiasan keemasan merupakan keistimewaan busana pengantin Palembang Aesan Pak Sangkong. Warna merah ningrat pada baju kurung dan songket bersulam emas sungguh memikat, sebagai tanda keagungan warisan karya budaya semasa kejayaan bumi Sriwijaya.
  2. "Aesan Gede", sebagaimana namanya busana ini merupakan busana kebesaran raja Sriwijaya yang kemudian diterjemahkan sebagai busana Pengantin Palembang. Warna merah jambu (pink) dipadu dengan keemasan mencerminkan keagungan bangsawan. Gemerlap perhiasan dan mahkota dipadukan baju dodot dan kain songket mempertegas keagungannya. Keindahan gaya busana Aesan Gede memang tak terbatahkan. Mencitrakan keanggunan sosok bangsawan. Gemerlap perhiasan warna merah keemasan tentunya menjadi pusat perhatian. Mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, kelapo standan merefleksikan kejayaan dan keragaman budaya semasa kejayaan Sriwijaya. Baju dodot dipadu kain songket lepus bermotif napan perak menjadi salah satu keunikannya. 
Nah, yang saya kenakan adalah jenis yang kedua, yaitu "Aesan Gede", ribet sih saat acara make up nya, karena kelengkapan busana tersebut memang banyak sekali dan rumit, namun saya suka melihatnya karena dengan ini artinya saya turut andil dalam melestarikan budaya Palembang (Adat Istiadat leluhur Suami dan saya). Well, Busana Pengantin adat Palembang pun sudah saya kenakan, dan saatnya deg-deg-an buat tampil di pelaminan, kenapa gitu deg-deg-an!? Ya, iyalah deg-deg-an karena itu artinya saya harus tampil menari dihadapan suami saya dan para tamu undangan, deg-deg-an karena latihan menarinya hanya 2 (dua) kali saja, tapi alhamdulillah suami selalu memberikan support dan menenangkan saya agar lebih rileks.  Yess, saya pun berhasil dengan baik menampilkan "Tari Pagar Pengantin",  dan suami saya pun mengatakan bagus, seperti penari profesional walaupun cuma sebentar latihannya (Ge-eR deh saya :p) 

Tari Pagar Pengantin ini konon katanya sangat jarang ditampilkan karena tarian ini hanya ada saat acara Pernikahan saja, namun pada era (yang katanya modern ini) sudah sangat langka juga untuk melihat tarian pagar pengantin di acara pernikahan. Berarti satu point tambahan buat saya, dengan menari pagar pengantin ini berarti saya telah ikut serta dalam melestarikan salah satu warisan budaya Nusantara (Budaya/Adat Palembang). Tari Pagar Pengantin ini dilakukan oleh Pengantin Wanita yang di dampingi oleh Pengantin laki-laki yang berdiri menjaga dan melihat istrinya menari, artinya Suami siap menjaga Istrinya sampai akhir hayatnya, Pengantin wanita tidak menari sendiri namun diiringi oleh 3 (tiga) atau lebih penari yang mengelilingi pengantin wanita. Pengantin Wanita berdiri di tengah para penari diatas nampan (dalam bahasa Palembangnya disebut "Dulang") dan menggunakan hiasan kuku berwarna emas, Pengantin wanita menari diatas dulang bermakna menggambarkan bahwa pengantin wanita tersebut hanya akan bertindak didalam lingkaran/ dulang yang menunjukkan bahwa pengantin wanita tersebut sekarang ruang geraknya terbatas karena sudah menikah. 

Demikian cerita tentang pernak-pernik pernikahan saya, yang diselenggarakan dengan sederhana semoga banyak barokahNya agar dapat melahirkan generasi yang sholeh/sholehah, Allah jadikan pernikahan ini adalah pernikahan yang langgeng tidak hanya di dunia namun langgeng sampai ke Surga Nya kelak, dan semoga Allah jadikan kami menjadi sebuah keluarga yang Sakinah, Mawwadah, Warrahmah, menjadi pasangan yang senantiasa saling mencintai, respect dan setia, saling menjaga satu sama lain kapanpun dan dimanapun berada. Aamiin..

Tidak lupa saya haturkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dan bekerja sama yang baik dengan saya. Mungkin list dibawah ini bisa menjadi referensi teman-teman yang masih single atau yang membutuhkan kerjasama dengan pihak-pihak berikut ini (Jabodetabek only): 
  1. Wakala Nusantara outlet wakalah hidayah, yang telah menyediakan Dirham untuk Mahar pernikahan saya. (Website,http://wakalahidayah.blogspot.com/)
  2. Make up dan Hijab Kreasi oleh Mba Dewi Sawitri, yang mau nurutin kemauan saya ber-make up natural :). (websitehttp://kreasijilbabku.blogspot.com/)
  3. Mardika Catering yang telah membantu saya tidak ribet soal sajian tetamu. Jl. Nusa Indah 2, Perumnas Klender Jakarta Timur.
  4. Klik-Klak Motion oleh Evan sebagai photografer yang membebaskan kami berekspresi dengan gaya sesuka hati kami dan thanks ya, keren album kolasenya.  Jl. F No. 31 Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan.
  5. Bunga, tenda dan kursi dari Jelita salon nya ibu Hj. Sri Wahyuni di Bintara Bekasi Barat.
  6. Pempek Roxy oleh Kak Sani dan Ayuk Yanti, yang menambahkan 2 Menu khas Palembang. Jl. Pondok Kopi (deket RS Islam Jakarta Pondok Kopi).
Thanks For All #FeelingSoBlessed

(source : www.sanggarriassriwijaya.com/)